Like

Cari Blog Ini

Renungan Bersama

"Sekiranya kamu ingin melihat masa depan sesuatu bangsa, Maka lihatlah generasi mudanya... "

- Imam Al-Ghazali -

Memaparkan catatan dengan label Jorong Mandiangin. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Jorong Mandiangin. Papar semua catatan

Selasa, 3 Julai 2012

SUDAH DITANGKAP


Buaya Ngamuk di Kinali Ditangkap
Perut Dibedah, Tim Medis Sebut Kerangka Kera
 Padang Ekspres • Selasa, 07/02/2012 10:00 WIB • (roy/eri) • 351 klik
Buaya Ngamuk
Pasbar, Padek—Perburuan buaya yang mengganas Batang Mandiangin terus dilakukan. Hingga kini, warga Jorong Mandiangin, Nagari Katiagan, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar), masih diliputi ketakutan beraktivitas di sepanjang aliran sungai tersebut.
Dalam perburuan itu, seekor buaya berhasil ditangkap warga setempat. Namun, setelah dibedah isi perut buaya itu, tim medis UPTD Kesehatan Kinali menyimpulkan tulang belulang yang ada dalam perut buaya itu bukan kerangka manusia.  
      
Buaya itu ditangkap Senin dini hari (6/2), sekitar pukul 03.00, oleh Tim SAR dibantu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pasbar, Polsek Kinali, serta warga. Diduga masih ada sejumlah binatang amfibi itu di sungai yang siap menerkam mangsanya kapan saja.
Salah satunya memburu buaya yang diduga kuat memangsa Yares Peyu di Batang Mandiangin pada Jumat (3/2) lalu.

Hingga kini, pencarian jasad Yares terus dilakukan Tim SAR dan warga, bersamaan dengan memburu sang predator yang meresahkan warga Kinali. Penangkapan buaya tersebut dibantu pawang buaya. Awalnya, sang pawang yakin bahwa buaya yang ditangkap itu yang menerkam Yares Peyu. Tak pelak, penangkapan buaya ini mendapat perhatian luas penduduk setempat. Mereka penasaran ingin melihat kondisi terakhir jasad Yares dalam perut buaya.

Untuk memastikan jasad Yares, masyarakat meminta agar perut buaya dibedah. Hanya saja, masyarakat mengusulkan agar buaya itu dibedah di Mandiangin, sementara Tim SAR mengusulkan dibedah di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kesehatan Kinali dengan pertimbangan buaya termasuk spesies dilindungi.
”Setelah berembuk sejenak, wali nagari Katiagan, Polsek Kinali dan lainnya, akhirnya sepakat agar buaya dibedah ke UPTD Kesehatan Kinali sekitar pukul 13.00,” kata Kepala Jorong Mandiangin, Sardade.

Warga tampak tegang ketika tim medis dari RSUD Pasbar memulai pembedahan yang dilakukan Hirlund Bosman, Lili Indriyani, Helfiriansyah dan Fitrah Qalbiana. Mereka berharap jasad Yares berada dalam perut buaya tersebut. Suasana UPTD Kesehatan Kinali pun hening ketika tim medis memulai operasi pembedahan. Ratusan pasang mata warga yang memadati UPTD Kesehatan Kinali secara bergantian menyaksikan proses pembedahan melalui kaca jendela UPTD.

Usai dibedah, tim medis menyimpulkan dalam perut buaya tidak ditemukan ciri-ciri kerangka manusia, melainkan kerangka kera. Namun begitu, tim medis tersebut mengusulkan agar tulang belulang itu diperiksa di Padang untuk memastikan isi perut buaya tersebut.  

Informasi warga setempat, lima orang dinyatakan hilang di Batang Mandiangin. Diduga kuat kelima orang itu dimangsa buaya. Warga resah karena sebagian besar bergantung pada sungai itu sebagai mata pencarian.
Aliran sungai juga dijadikan warga sebagai sarana transportasi. Pencarian Yares yang hilang sejak Jumat sekitar pukul 15.00, dikabarkan diterkam buaya saat mencuci kaki. Warga setempat memperkirakan buaya tersebut lebih satu ekor. Kelima korban keganasan buaya di Batang Mandiangin itu, belum pernah ditemukan jasadnya.  (roy/eri)
[ Red/Redaksi_ILS ]

Korban Diterkam Buaya


Korban Diterkam Buaya Tewas Mengapung
 Padang Ekspres • Rabu, 08/02/2012 12:01 WIB • (roy/eri) • 780713 klik
Pasbar, Padek—Jasad Yares Peyu, warga Jorong Mandiangin, Kenagarian Katiagan, Kecamatan Kinali, Pasaman Barat (Pasbar) diduga diterkam buaya Jumat (3/2) lalu, akhirnya berhasil ditemukan.
Suami Imar sehari-hari bekerja sebagai nelayan ini tewas mengapung di dekat jembatan Batang Mandiangin, kemarin (7/2) sekitar pukul 08.30. Lokasi penemuan jasad Yares ini berjarak 200 meter dari lokasi pertama kali korban diterkam buaya.

Jasad korban pertama kali ditemukan Elpis, 35, warga setempat yang juga nelayan. Pagi itu, ia hendak bepergian ke salah satu pondok warga dekat jembatan. Tiba-tiba, ia melihat sesosok mayat mengapung. Awalnya, Elpis sempat tak percaya terhadap apa dilihatnya. Usai berulang kali mengamatinya, barulah Elpis berlari terbirit-birit guna memberi tahu warga sekitarnya.

Warga pun berbondong-bondong menghampiri sungai guna melihat penemuan mayat tersebut. Setelah beberapa warga melihat lebih dekat, akhirnya diketahui mayat itu tak lain Yares beberapa waktu lalu hilang.

”Mayat itu lalu diangkat ke daratan. Kondisinya sangat memiris. Jasad korban sudah membesar dan membusuk. Sebagian organnya seperti tangan, kaki dan kepala tak ditemukan,” sebut Sapnel Bagadiang, warga setempat. Jasad korban langsung dibawa ke rumahnya untuk dikebumikan. Terpisah, Wali Nagari Katiagan S Buyung Ganto menduga, bagian tubuh hilang itu dimakan buaya.

Saat ini pihak nagari bersama pemerintah daerah berharap habitat buaya itu dipindahkan ke tempat semula. ”Ya, pihak PSDA provinsi dan pemerintah daerah ikut langsung ke lokasi,” kata wali nagari.

Supriadi, warga setempat juga berharap pemerintah daerah turun tangan membantu keluarga korban. Pasalnya, sampai saat ini pihak keluarga masih kewalahan terkait cost (biaya) jasa pawang buaya ikut andil mencari korban. ”Kita harap ada pihak dermawan membantu keluarga korban,” harap Supriadi.

Seperti diketahui, Yares disambar buaya Jumat lalu, masyarakat setempat beserta tim SAR dan BPBD Pasbar, Polsek Kinali langsung melakukan pencarian sekitar Batang Mandiangin. Senin (6/2) sekitar pukul 03.00, seekor buaya dapat dilumpuhkan.
Tim medis di UPTD Kesehatan Pasbar melakukan pembedahan terhadap perut buaya tak menemukan tanda-tanda jasad manusia. Justru yang ada dalam perut buaya itu hanya kerangka tulang kera.(roy/eri)
[ Red/Redaksi_ILS ]

Ahad, 29 Januari 2012

Warga Mandiangin Harapkan Jalan


 Padang Ekspres • Senin, 23/01/2012 13:53 WIB • (rm/eri) • 17683 klik
Menjemur Ikan: Bapak ini sedang menjemur ikan hasil tangkapannya untuk kemudian
Pasbar, Padek—Ribuan warga Mandiangin, Kenagarian Katiagan, Kecamatan Kinali, Pasaman Barat mengharapkan peningkatan pembangunan jalan di kampung mereka. Kerusakan jalan cukup memprihatinkan, sehingga menyulitkan warga menjual hasil pertanian.

Jarak Mandiangin ke pusat kota sekitar 28 km dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam. Jalan perkebunan itu mendesak dilakukan perbaikan, minimal pengerasan jalan. Buruknya akses menuju ke kampung itu, telah menimbulkan ekonomi biaya tinggi karena harus membayar mahal ongkos transportasi.

Ketika hujan, jalanan seperti kubangan kerbau. Apalagi jika aliran sungai meluap, tidak kelihatan lagi batas antara jalan dengan sungai. ”Kami berharap betul perhatian Pemkab,” kata tokoh masyarakat Mandiangin, H Horizon kepada Padang Ekspres di Mandiangin kemarin.

Horizon optimistis ekonomi masyarakat meningkat bila kondisi jalan memadai. Lancarnya mobilitas masyarakat dapat memacu aktivitas ekonomi rakyat.  

Hal yang sama disampaikan Ketua Pemuda, Yudi Hartono. Dia berharap betul Pemkab dapat mewujudkan impian masyarakat. ”Memang tahun 2011 lalu, telah dibangun jembatan sepanjang 100 meter menuju Mandiangin. Tapi, belum maksimal kalau tidak ditingkatkan pembangunan jalan menuju Mandiangin.
Masyarakat masih terkendala buruknya jalan, apalagi di pendakian jembatan Mandiangin, kalau hujan sulit dilewati kendaraan,” keluh Yudi didampingi rekan lainnya.

Mandiangin persis berada di kawasan pesisir. Potensi ekonominya tidak kalah dengan daerah pantai lainnya di Pasbar. Hanya saja, jauhnya akses Mandiangin menuju pusat kota menyebabkan daerah ini tertinggal.
”Di samping membangun sektor kelautan, pertanian dan lainnya, pembangunan infrastruktur jalan mendesak di sini. Warga kami juga ingin menyambung hidup, karena zaman sekarang penghasilan tidak seberapa, sementara biaya hidup besar,” ujar Sahrul, 46, warga setempat.

Wali Jorong Mandiangin Sardade Aprial Syam menyebutkan, keluhan dan harapan warganya itu akan terus diupayakan ke pemerintah daerah.  ”Rencana peningkatan jalan itu telah dimasukkan dalam perencanaan nagari 2012 ini.
Selama ini, warga mengandalkan transportasi laut menuju Simpangampek melalui Muaro Binguang ke Sasak. Transpotasi laut ini kan tergantung kondisi cuaca. Kalau gelombang tinggi, aktivitas terganggu,” kata Sardade.

Harapan warga meningkatkan jalan sebagai urat nadi perekonomian masyarakat, sangatlah beralasan. Saat ini, wali jorong bekerja sama dengan nagari mengajukan pembangunan jalur gang di permukiman masyarakat dengan rabat beton. ”Kalau pasang naik, rumah warga tergenang,” tandasnya. (rm/eri)

[ Red/Redaksi_ILS ]

MASALAH KAMPUNG KITA - Siapa yang patut dipersalahkan

TV Al-Quran

TvQuran

Catatan Popular